Memenangkan Perang Lawan Pandemi

Kemanusiaan dan globalisasi telah terbukti mampu memenangkan peperangan melawan pandemi.

Pada abad 21  wabah mengerikan seperti AIDS dan virus Ebola, terbukti membunuh lebih sedikit manusia dibandingkan dengan masa-masa sebelum era globalisasi. Di masa sebelum globalisasi epidemi / virus dapat membunuh jutaan jiwa manusia.

Akhir-akhir ini manusia kembali harus berperang, Covid-19 menjadi wabah pandemi mengerikan, telah menyerang hingga ratusan negara.

Sejatinya manusia sudah berkali-kali berperang melawan epidemi atau virus mematikan. Kemanusiaan dan perthanannya telah terbukti mampu berperang melawan virus / epidemi di era globalisasi.

Di era globalisasi pertahanan manusia sudah sangat kuat di banding sebelum era globalisasi. Globalisasi memberikan keterbukaan informasi. Informasi adalah senjata ampuh memenangkan peperangan dengan epidemi.

epidemi / virus patogen selalu bergantung kepada mutasi buta (blind mutations) sedangkan pertahanan manusia melalui para dokter bergantung kepada analisis informasi ilmiah.

Globalisasi mampu menghadirkan informasi ilmiah dengan sangat cepat sehingga kemanusiaan, solidaritas dan informasi ilmiah lebih cepat dalam membangun pertahanan memerangi epidemi.

Yuval Noah Hariri, seorang penulis dan pemikir baru-baru ini menjelaskan secara rinci bagaimana globalisasi telah mampu melawan peperangan dengan virus / epidemi.

Hariri menentang tesis bahwa penyebab banyak korban virus Covid-19 adalah globalisai. Karenanya ia tidak sependapat jika soslusi melawan epidemi adalah mende-globalisasi dunia, yakni dengan membangun tembok, membatasi perjalanan, mengurangi perdagangan sebagaimana yang terjadi saat ini dimana hampir semua negara menerapkan kebijakan tersebut.

Hariri, berpendapat bahwa karantina jangka-pendek penting untuk menghentikan epidemi, sementara isolasi jangka-panjang akan mengarah kepada kejatuhan ekonomi tanpa menawarkan proteksi nyata dalam melawan penyakit menular. Sebaliknya, pencegahan terhadap epidemi bukanlah segregasi, melainkan kooperasi.

pendapatnya tersbeut sebagaimana diuraikan dalam tulisannya yang berjudul In this moment of crisis, the crucial struggle takes place within humanity itself yang terbit di Time pada 20 Maret 2020.

lebih lanjut Hariri mencontohkan bagaimana manusia memennagkan epidemi di era globalisasi dibandingkan dengan era zaman batu. menurut Hariri ketika Maut-Hitam (black death) terjadi pada abad ke-14, masyarakat pada saat itu tidak mengerti apa penyebabnya dan apa yang harus dilakukan untuk menghentikan wabah tersebut.

Epidemi Membunuh Jutaan Manusia Sebelum Era Globalisasi.

Pada abad ke-14 di mana tidak ada pesawat dan kapal pesiar, dan Maut-Hitam (Black-Death) menyebar dari Asia Timur hingga Eropa Barat dalam waktu lebih dari seabad. Wabah tersebut membunuh kira-kira 75 juta sampai 200 juta orang – seperempat lebih populasi Eurasia. Di Inggris, 4 dari 10 orang meninggal. Kota Florence kehilangan 50.000 orang dari total 100.000 penduduk.

Pada Maret 1520, seorang pembawa cacar—Francisco de Eguia—tiba di Meksiko. Pada saat itu, Amerika Tengah tidak memiliki kereta api, bus ataupun keledai. Namun, pada Desember seorang pembawa epidemi cacar menghancurkan seluruh Amerika Tengah, yang menurut beberapa perkiraan membunuh hampir sepertiga dari populasi.

Pada 1918 sebuah flu yang sangat ganas berhasil menyebar ke ujung terjauh dunia hanya dalam beberapa bulan. Flu ganas tersebut menjangkiti setengah milyar manusia – lebih dari seperempat spesies manusia. Flu tersebut diperkirakan membunuh 5% dari populasi India. Di Pulau Tahiti terdapat 14% kematian.

Sedangkan di Samoa terdapat 20% kematian. Keseluruhan pandemi telah membunuh 10 juta manusia –dan barangkali mencapai angka 100 juta korban– dalam waktu kurang dari setahun. Kematian tersebut melebihi kematian yang disebabkan oleh brutalitas Perang Dunia I yang berlangsung selama 4 tahun.

Sejak 1918, umat manusia menjadi semakin rentan terhadap epidemi, karena kombinasi antara pertumbuhan populasi dan transportasi yang semakin baik. Kota metropolis modern seperti Tokyo atau Kota Meksiko merupakan tempat-tempat berburu patogen (mikroorganisme parasit) yang jauh lebih kaya daripada Florence abad pertengahan, dan perkembangan jaringan transportasi global hari ini jauh lebih cepat daripada 1918.

Virus bisa berpindah dari Paris ke Tokyo dan Kota Meksiko kurang dari 24 jam. Karena itu, kita telah menunggu untuk hidup di dalam neraka yang terjangkit dengan satu wabah mematikan setelah satu wabah lainnya.

Hingga era modern, manusia biasanya menyalahkan penyakit sebagai wujud kemarahan para dewa, iblis jahat atau udara buruk, dan bahkan tak pernah mencurigai adanya bakteri dan virus.

Masyarakat saat itu percaya kepada para malaikat dan orang-orang pintar, tetapi mereka tidak dapat membayangkan bahwa setiap tetesan air mungkin bermuatan pasukan predator pembunuh.

Oleh karena itu, ketika Maut-Hitam atau cacar  mewabah, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh otoritas ialah mengumpulkan massa untuk berdoa ke para dewa dan malaikat.

Namun, tindakan tersebut tidaklah membantu. Ketika orang-orang berkumpul bersama untuk berdoa secara massal, justru tindakan tersebut menyebabkan orang-orang terinfeksi.

Memenangkan Perang Civid-19 

Selama beberapa abad terakhir, ilmuwan, dokter dan perawat mengumpulkan informasi dari seluruh dunia dan bersama-sama berusaha memahami mekanisme di balik kedua epidemi tersebut dan menemukan cara untuk menghadapinya.

Teori evolusi menjelaskan kenapa dan bagaimana penyakit baru muncul dan penyakit lama menjadi lebih ganas.

Genetika memungkinkan para ilmuwan untuk meneliti manual instruksi patogen itu sendiri. Ketika orang-orang abad pertengahan tidak mampu menemukan apa penyebab dari Maut-Hitam, hanya butuh 2 minggu bagi para ilmuwan untuk mengidentifikasi virus korona, urutan genomnya dan mengembangkan alat tes yang lebih handal untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi.

Ketika para ilmuwan berhasil memahami apa penyebab dari epidemi, hal ini memudahkan untuk menghadapinya. Vaksinasi, antibiotik, peningkatan kebersihan, dan infrastruktur kesehatan yang lebih baik memungkinkan manusia menang atas predator yang tidak terlihat ini.

Pada 1967, penyakit cacar masih menularkan 15 juta orang dan menewaskan 2 juta orang. Pada dekade berikutnya, kampanye secara global untuk vaksinasi cacar berhasil dilakukan, tepatnya pada 1979 World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa kemanusiaan telah menang, dan penyakit cacar telah berhasil dientaskan. Pada 2019 tidak ada satu pun orang terinfeksi ataupun terbunuh oleh penyakit cacar.

Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari sejarah atas epidemi virus korona saat ini?

Pertama, sejarah epidemi menunjukkan bahwa kamu tidak bisa melindungi diri secara permanen dengan hanya menutup perbatasan. Hal ini mengingat bahwa epidemi tersebar secara cepat pada abad pertengahan, jauh sebelum era globalisasi.

Bahkan jika kamu mengurangi  koneksi global/hubungan globalisasi seperti yang dilakukan Inggris pada 1348 — hal tersebut tidaklah cukup. Pada abad pertengahan, mengisolasi diri sebagai perlindungan tidak akan cukup. Kamu harus pergi ke Zaman Batu. Bisakah kamu melalukannya?

Kedua, sejarah menunjukkan perlindungan yang sesungguhnya datang dari saling berbagi informasi ilmiah yang handal, dan solidaritas global.

Ketika salah satu negara terkena epidemi, negara tersebut harus bersedia dengan jujur membagi informasi tentang meningkatnya wabah secara tiba-tiba (outbreak) tanpa takut ekonominya akan runtuh — sementara negara lain harus mempercayai informasi tersebut dan harus bersedia mengulurkan tangan membantu daripada mengucilkan negara terdampak.

Hari ini, Cina memberikan pelajaran penting tentang virus korona kepada seluruh negara, tetapi ini semua menuntut tingkat kepercayaan dan kerja sama internasional yang tinggi.

Kerja sama internasional dibutuhkan untuk melakukan langkah-langkah karantina yang efektif. Karantina dan mengunci rapat pintu keluar dan pintu masuk wilayah (lock-down) merupakan tindakan esensial untuk menghentikan penyebaran epidemi. Namun, ketika negara-negara tidak saling percaya satu sama lain dan tiap negara tidak peduli, pemerintah ragu untuk melakukan tindakan semacam itu.

Jika kamu menemukan 100 virus korona di negaramu, akankah kamu mengunci rapat pintu keluar dan masuk seluruh kota dan wilayah untuk mencegah penyebaran penyakit? Sebagai besar kebijakan ini tergantung kepada apa yang kamu harapkan dari negara-negara lain.

Mengunci pintu keluar dan masuk suatu wilayah bisa mengarahkan kepada kelumpuhan ekonomi. Namun, apabila kamu berpikir bahwa negara-negara lain akan memberikan pertolongan –maka kamu akan cenderung menerapkan kebijakan tegas ini.

Akan tetapi, jika kamu berpikir bahwa negara-negara lain akan mengabaikan, kamu mungkin akan ragu untuk menerapkan kedua tindakan sampai semuanya terlambat

Barangkali hal terpenting yang masyarakat harus sadari tentang epidemi adalah bahwa tersebarnya epidemi ke suatu negara berarti membahayakan seluruh spesies manusia.

Bahaya tersebut dikarenakan virus-virus berevolusi.  Ketika virus tersebut berpindah ke manusia, mulanya virus-virus tersebut kurang menyesuaikan diri pada tubuh manusia.   

Ketika virus bereplikasi di dalam tubuh manusia, virus-virus tersebut sesekali mengalami mutasi.

Kebanyakan mutasi tersebut tidak berbahaya. Namun setiap saat mutasi membuat virus lebih menular atau lebih tahan/kuat terhadap sistem imun manusia –dan jenis virus mutan ini dengan cepat akan menyebar dalam populasi manusia.

Karena satu orang mungkin saja menjadi tempat triliunan partikel virus yang mengalami replikasi terus menerus, setiap orang yang terinfeksi memberikan kesempatan bagi triliunan virus untuk lebih beradaptasi lagi terhadap manusia. Setiap manusia yang membawa virus itu seperti mesin perjudian yang memberikan tiket loterai bagi triliunan virus –dan virus hanya perlu menarik satu tiket kemenangan untuk berkembang.

Ini semua bukan hanya spekulasi. Richar Preston dalam Crisis in the Red Zone menjelaskan secara tepat rantai peristiwa pada tahun 2014 tentang wabah Ebola.

Wabah bermula ketika beberapa virus Ebola berpindah dari kelelawar ke manusia. Virus inilah yang membuat manusia sakit, akan tetapi virus tersebut masih beradaptasi di dalam kelelawar ketimbang tubuh manusia..

Yang membuat perubahan Ebola dari yang mulanya penyakit langka menjadi epidemi hebat ialah disebabkan oleh mutasi tunggal di dalam gen tunggal salah satu virus Ebola yang menginfeksi manusia, di suatu tempat di Makona, Afrika Barat.

Mutasi tersebut memungkinkan strain mutan Ebola –yang disebut strain Makona—untuk terhubung ke transporter kolesterol dari sel manusia. Saat ini, aliha-alih kolesterol, transporter menarik Ebola ke dalam sel. Strain Makona yang baru ini empat kali lebih menular terhadap manusia.

Saat kamu membaca baris-baris paragraf ini, mutasi yang sama sedang terjadi di gen tunggal di dalam virus korona yang menginfeksi beberapa orang di Tehran, Milan atau Wuhan. Apabila mutasi ini benar terjadi,  ini merupakan ancaman langsung dan bukan hanya bagi warga Iran, Italia atau Cina, bahkan bagi kehidupanmu juga.

Orang-orang seluruh dunia saling berbagi kesamaan hidup-dan-mati untuk tidak memberikan kesempatan bagi virus korona. Dengan demikian, kita butuh untuk melindungi setiap orang di tiap-tiap negara.

Pada tahun 1970-an kemanusiaan berhasil mengalahkan virus cacar karena seluruh manusia di setiap negara divaksinasi guna melawan virus tersebut.

Apabila satu negara gagal mendapat vaksinasi atas populasi warganya, itu bisa membahayakan seluruh umat manusia, sebab selama virus cacar tersebut masih ada eksistensinya dan berevolusi di suatu tempat, virus tersebut bisa tersebar kembali di mana pun.

Dalam pertarungan melawan virus, kemanusiaan perlu menjaga gerbang perbatasan. Tetapi bukan perbatasan antar negara. Justru, penutupan tersebut dibutuhkan untuk menjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia-virus (virus-sphere).

Planet bumi ini dipenuhi oleh banyak virus, dan virus-virus baru terus menerus berevolusi berdasarkan mutasi genetik. Perbatasan ini yang memisahkan dunia-virus dengan dunia-manusia berada di dalam dan tiap masing-masing tubuh manusia. Apabila sebuah virus berbahaya berupaya untuk memasuki batas ini di mana pun di dunia, maka seluruh spesies manusia berada dalam bahaya.

Selama beberapa abad terakhir, kemanusiaan telah memperkuat benteng perbatasan, yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Sistem kesehatan modern telah dibangun untuk membentengi perbatasan tersebut, dan para perawat, dokter dan ilmuwan merupakan pelindung yang menjaga perbatasan dan mengusir virus-virus penyusup yang mencoba melewati perbatasan.

Namun, bagian perbatasan ini telah dibiarkan terbuka. Ada ratusan jutaan orang seluruh dunia yang tidak memiliki jaminan kesehatan dasar. Hal ini membahayakan kita semua.

Kita masih memikirkan tentang kesehatan dalam pengertian nasional, tetapi dengan menyediakan kesehatan yang lebih baik bagi Iran dan Cina dapat menyelamatkan warga Israel dan Amerika dari epidemi. Kebenaran yang sederhana ini harus jelas bagi setiap orang, namun sayangnya hal ini luput bahkan dari orang penting di dunia.

Dunia Tanpa Pemimpin

Hari ini, kemanusiaan menghadapi sebuah krisis akut bukan hanya disebabkan oleh virus korona, tetapi juga karena kurangnya kepercayaan di antara manusia.

Untuk mengalahkan epidemi, orang-orang perlu mempercayai ilmuwan, warganegara perlu percaya kepada otoritas publik, dan tiap negara perlu saling percaya.

Selama beberapa tahun terakhir, politisi yang tidak bertanggung-jawab dengan sengaja telah menggerogoti kepercayaan kepada ilmu pengetahuan, otoritas publik dan kerjasama internasional.

Sebagai akibatnya, kita sekarang menghadapi krisis kehilangan pemimpin global yang dapat menginspirasi, mengatur dan membiayai respons global yang terkoordinasi.

Selama epidemi Ebola pada 2014, Amerika Serikat bertindak sebagai pemimpin yang baik hati. Amerika Serikat juga hampir memiliki peran yang sama pada krisis keuangan 2008, ketika negara tersebut mendukung banyak negara-negara untuk mencegah krisis ekonomi global.

Namun akhir-akhir ini Amerika Serikat telah melepaskan perannya sebagai pemimpin global. Administrasi Amerika Serikat saat ini memangkas dukungan untuk organisasi internasional seperti World Health Organization, dan memperjelas pada dunia bahwa Amerika Serikat tidak memiliki teman sejati. –Amerika Serikat hanya memiliki kepentingan. Ketika krisis virus korona korona muncul, Amerika Serikat hanya menjadi penonton, dan sejauh ini menahan diri untuk mengambil peran kepemimpinan.

Bahkan jika Amerika Serikat tiba-tiba mengambil alih kepemimpinan, kepercayaan yang ada saat ini pada administrasi Amerika Serikat telah terkikis sedemikian rupa, dan hanya beberapa negara yang mau mengikutinya. Akankah kamu mengikuti pemimpin yang motonya itu sendiri “Me First?”

Kekosongan yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat belum diisi oleh negara mana pun. Justru kebalikannya. Xenofobia, isolanionisme dan ketidakpercayaan saat ini merupakan karakteristik dari sistem internasional.

Tanpa kepercayaan dan solidaritas global, kita tidak akan mampu menghentikan epidemi virus korona, dan kita akan melihat lebih banyak lagi epidemi lainnya di masa depan. Kendati demikian, setiap krisis juga merupakan kesempatan. Semoga saja epidemi sekarang ini membuat umat manusia sadar akan bahaya akut yang diperlihatkan oleh perpecahan global.

Sebagai contoh nyata, epidemi ini bisa menjadi kesempatan emas bagi Uni Eropa untuk mendapatkan kembali dukungan yang telah hilang beberapa tahun belakangan ini. Jika anggota Uni Eropa yang lebih beruntung dengan cepat dan murah hati mengirimkan uang, peralatan dan tenaga medis untuk membantu rekan mereka yang paling terdampak, hal ini akan membuktikan bahwa nilai ideal Eropa lebih baik daripada perkataan-perkataannya. Namun, jika tiap negara dibiarkan berjuang sendirian, maka epidemi ini terdengar seperti lonceng kematian persatuan Uni Eropa.

Dalam situasi krisis ini, perjuangan yang krusial terjadi dalam kemanusiaan itu sendiri. Jika epidemi ini menghasilkan perpecahan yang lebih besar dan tiadanya rasa percaya di antara manusia, maka viruslah yang memenangkan ‘peperangan’ ini.

Ketika manusia bertengkar –virus berlipat ganda. Sebaliknya, jika epidemi ini menghasilkan kerja sama global yang lebih erat, maka hal ini akan menjadi kemenangan bukan hanya atas virus korona, melainkan atas patogen-patogen di masa depan.(*) Tim Redaksi

Klik Magazine Versi PDF

Komentar

About Author /

Start typing and press Enter to search